The first 200 lines.
"Reverse."
Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Dalam imajinasimu,
aku pasti sudah mati di tanganmu.
Berkali-kali.
Imajinasi?
Kenyataannya, kamu akan mati di tanganku.
Hanya masalah waktu.
Tentu.
Kamu baru saja melarikan diri.
Kamu bersembunyi di sana, berharap untuk dilupakan.
Seperti pecundang,
sembari terus merasa cemas.
Tentu.
Bisa jadi kamu merasa seperti itu.
Karena aku tidak begitu pintar,
aku tidak terpikir sampai ke sana.
Jangan bicara omong kosong.
Selama aku masih hidup, jangan memimpikannya.
Tapi,
bukan begitu cara kerja dunia ini.
Kamu tidak bisa terlalu yakin.
Siapa tahu kamu juga bisa berubah.
Jadi, jangan sembarangan...
Kamu pikir apa yang bisa dilakukan gadis sepertiku?
Kamu hanya mengulur waktu sampai aku lelah dan menyerah.
Benar, bukan?
Kamu gila?
Sekarang kamu baru merasakannya?
Baru begini saja?
Aku berjanji.
Kamu akan mati di tanganku.
Apa pun yang terjadi, pasti.
"Pengejaran."
"CEO Ryu Jun Ho."
Ini undangan peletakan batu pertama bulan depan.
Kami berencana mengirimkan undangan setelah menyeleksi sekutu,
tapi bagaimana dengan Wakil Pimpinan?
Sepertinya kemarin dia memanggil kepala tim hukum dan menyuruhnya.
Sepertinya dia terus menyelidiki urusan di sekitar Anda.
Katanya bahkan ada perintah untuk memperbesar tim hukum.
Dia memang orang yang sibuk.
Bagaimana dengan pengiriman undangannya?
Lanjutkan sesuai prosedur. Dia Wakil Pimpinan perusahaan pusat.
Baik.
Lalu sekarang...
Tolong cari tahu di mana Wakil Pimpinan berada.
Kita akan bertemu saat waktunya tiba.
Sikap macam apa ini? Tidak sopan.
Maafkan aku.
Orang yang akan Anda temui hari ini sudah aku mintai tolong.
Sepertinya ada sedikit masalah
komunikasi antara aku dan Anda, Wakil Pimpinan.
Komunikasi apa yang diperlukan antara aku dan kamu?
Saat Arsitektur pertama kali didirikan,
jika target pendapatan tercapai dalam waktu tiga tahun,
perusahaan akan menyerahkan saham miliknya kepada Arsitektur.
Lalu, syarat penyerahannya akan disepakati bersama.
Ini adalah isi yang tertulis jelas dalam anggaran dasar perusahaan.
Per Maret lalu,
target pendapatan telah tercapai. Mohon penuhi janji Anda.
Di saat Pimpinan baru meninggal dunia,
kamu berani membahasnya?
- Wakil Pimpinan. - Kamu mungkin anggap ini sepele,
tapi perusahaan kita sekarang dalam keadaan darurat.
Pendiri kita ditemukan menjadi tumpukan abu dalam semalam.
Hangus terbakar
dalam wujud yang bahkan tidak bisa dikenali lagi.
Namun,
polisi masih
menyelidiki penyebab kematian Pimpinan.
Aku harus bersiap
kalau-kalau ini
bukan kecelakaan biasa.
Kamu tahu sendiri dunia ini tidak masuk akal.
- Seperti sekarang ini. - Wakil Pimpinan.
Tidak perlu tersinggung begitu dengan perkataanku, ya?
Ini bukan hanya pendapatku,
tapi juga pernyataan resmi perusahaan.
Aku tahu Anda menyelidiki
latar belakangku.
Itu sia-sia bagi kita.
Anda seharusnya berhenti.
Kamu memerintahku?
Wakil Pimpinan,
Anda memang seniorku di industri ini,
tapi kesabaranku sudah habis.
Mulai sekarang,
aku pun tidak tahu apa yang akan kulakukan.
Jadi, Wakil Pimpinan,
Anda sebaiknya berpikir dahulu sebelum bertindak.
Dasar kamu...
Kalau begitu, aku senang kita mencapai pengertian.
Aku permisi.
Kamu pernah merasa benar-benar cemas?
Saat semuanya bisa hancur dalam sekejap
dan seseorang bisa saja menghancurkan hidupmu?
Kadang,
aku ingin melepaskan semuanya.
Aku terlalu lelah.
Terlalu berat.
Seharusnya aku tidak pergi.
Hari itu...
Aku pergi ke tempat yang seharusnya tidak kudatangi.
Lihat di sana?
Itu tempat yang kita datangi dulu.
Apa? Dia datang.
Myo Jin, ayo.
Jun Ho!
Aku merindukanmu.
Bagaimana?
Perabotan apa ini?
Bukankah kamu memesan yang sudah kubicarakan?
Kenapa? Ini hampir sama dengan yang kita bicarakan.
Harganya lebih mahal.
Sebenarnya,
apa yang terjadi dengan semua yang kukatakan?
Sudah kubilang aku memilih yang lebih bagus.
- Kamu tidak suka? - Bukan tidak suka, tapi ini salah.
Padahal sudah kujelaskan semuanya pada kontraktor, bahkan kutuliskan,
- tapi kamu mengubah semuanya. - Sekarang kamu marah padaku?
Kalau kamu memang tidak suka,
buang saja semuanya.
Rombak dan isi lagi dengan yang kamu mau.
Itu akan membuatmu senang, bukan?
Arsitektur itu bukan hanya eksterior.
Interior juga bagian dari arsitektur.
Meskipun ini vila untuk kita berdua,
ini tetap salah satu karyaku di Korea.
Benar.
Ini adalah tempat khusus untuk kita berdua.
Aku sangat suka keadaannya yang seperti ini.
Kalau aku suka, bukankah seharusnya kamu juga suka?
Kumohon,
berhentilah bersikap perfeksionis sekali ini saja.
Dasar gila kendali.
Sapa dia. Ini temanku, Myo Jin.
Kamu tahu siapa dia, 'kan?
Kamu punya vila seperti ini di setiap negara?
Yang lain dibangun untuk dijual,
tapi tidak dengan yang ini.
Karena seseorang mendesainnya,
aku bilang aku harus memilikinya.
Rancangan?
Separuhnya dikerjakan orang lain?
Kamu ungkit lagi soal itu?
Bersulang!
Ayahmu hebat sekali.
Aku bahkan tidak bisa membayangkan seberapa besar bisnisnya.
Rupanya Myo Jin sangat penasaran dengan ayahku.
Dia selalu membicarakan ayahku kepadaku.
Kalian berdua
sangat mirip.
- Apanya yang mirip? - Sama-sama mengagumi ayahku.
Kamu juga selalu bilang begitu. Ingin sukses seperti ayahku.
Myo Jin juga selalu bilang kalau dia ingin bertemu ayahku.
- Benarkah? - Apa aku pernah bilang begitu?
Ayahku bilang akan segera kembali ke Korea,
jadi, kalian bisa bertemu dengannya saat itu.
Kita temui saja dia bertiga.
Apa dia berencana untuk kembali?
Entah itu hanya ucapan atau sungguhan.
Bersulang.
Aku ke toilet sebentar.
Myo Jin.
Maafkan aku.
Aku kira kamu Hee Soo.
Bukan, tidak apa-apa. Ini salahku.
Seharusnya aku tidak meminjam pakaian Hee Soo.
Aku tidak tahu akan menginap sampai hari ini.
Maafkan aku.
Astaga, padahal aku tidak mabuk,
tapi aku bisa membuat kesalahan seperti ini.
Maafkan aku.
Jun Ho!
Apa kita sudah menghabiskan semua sampanyenya?
Sudah habis?
Pakaian itu cocok untukmu.
Seharusnya kamu berganti pakaian dari tadi.
Ya, benar juga.
Apa yang kamu lakukan sendirian? Pasti bosan.
Ayo minum lagi.
Aku sudah cukup.
- Aku mau cari angin sebentar. - Kenapa?
Kamu merasa sesak?
Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke laut naik yacht?
Tidak, kalian habiskan saja waktu berdua.
Hentikan.
Kenapa?
Sudah kubilang hentikan.
Kenapa kamu tiba-tiba begini?
Ada yang aneh.
Semuanya terasa berbeda.
Kamu masih minum obat?
Kenapa?
Kamu khawatir?
- Sedang apa kamu? Berikan. - Lepaskan! Kamu gila?
Sudah kubilang jangan menambah dosis obatmu sembarangan!
Kamu...
Kamu benar-benar sudah gila.
Ucapan ayahku kepadamu
No comments yet. Be the first to leave one.