200 rreshtat e parë.
Sebelumnya di Tracker…
Aku tahu kau kira aku mendorong Ayah.
Ayah. Russell!
- Apa yang kau lakukan? - Aku melihatmu.
Ada orang lain di hutan malam itu.
Kalau Ibu tahu sesuatu soal Ayah…
Demi kebaikan semua orang, lupakanlah.
Aku punya waktu satu jam. Mau cari sekarang atau…
- Ibu tahu soal ini? - Tidak.
Aku yakin ada sesuatu di kotak itu.
Kakakku bilang ada orang lain di hutan
pada saat ayahku ke atas tebing.
Itu kau.
- Kau mendorong ayahku ke jurang? - Benar.
Kenapa?
Karena dia minta bantuanku.
Siapa yang minta bantuanmu?
Ibumu.
Mau tambah?
Ya, tentu. Terima kasih.
Aku bisa bantu angkat telepon itu.
Dari tadi berdering.
Ini tak penting.
Yakin itu bukan mantanmu?
Mantanku dua puluh kali sehari.
Sebaiknya ganti nomormu.
Panggilanku ini paling urusan kerja.
Kau kerja apa?
Pekerjaan biasa.
Bohong. Tiap kali kau di sini, ponselmu berdering.
Pasti penting.
Tidak. Tapi matamu jeli juga.
Bagian dari pekerjaan.
Tapi aku mengerti. Kau menginginkan privasi.
- Akan kuambilkan bir yang baru. - Terima kasih.
Hati-hati, Sayang.
Hei.
Ya, baiklah.
Maaf soal itu.
Ada masalah?
Ambil itu, dan kita baik saja.
Itu gunanya uang.
Aku tak mau cari masalah. Ambil dan kita tak akan ribut.
Kau duduk saja, biarkan dia dapatkan uang itu.
Ambil.
Baiklah, Billy Jagoan.
Duduk, dan biarkan dia bekerja.
Dan itu untukmu.
Bagus, Jonesy.
Pukulan yang bagus.
- Bagus. - Russ.
Pukulan bagus. Kau angkat sikumu. Itu…
Tapi pukul sampai melewati target.
Bukan sekadar kena. Seperti ini.
- Bagus. - Ya.
Mau suit untuk dia?
Maaf jadi berantakan. Aku boleh minta tolong?
Tolong ambilkan kantong es untuk wajah kakakku.
Jangan sampai dia makin jelek lagi.
Aku tak butuh es. Ada IPA?
- Kami tak punya. - Tentu saja.
Baiklah.
Mungkin bir dingin, terserah.
- Kau baik-baik saja? - Baik sekali.
Bagaimana kau menemukanku?
Dari beberapa orang yang khawatir.
Reenie?
Ya, dan yang lainnya.
Itu yang terjadi jika kau tak angkat telepon
dan menjauhi semua orang terdekatmu, Colter.
Cangkirmu bagus-bagus.
Aku baik-baik saja.
Tentu.
Apa yang terjadi di Echo Ridge?
Kau bicara dengan Ibu?
Sedikit.
Katanya kau mencari kotak penyimpanan Ayah.
Ya.
Lalu setelah rampung kerja, kau pergi begitu saja tanpa pamit.
Kutemukan pria yang kau lihat dengan Ayah di tepi jurang.
Teruskan.
Namanya Otto.
Ibulah yang menyuruhnya ke sana.
Ibu minta pria ini bicara dengan Ayah?
Sepertinya itu bukan kali pertama.
Ibu berencana meninggalkan Ayah, mengajak kita.
Ayah tak terima.
Ayah pun mengamuk.
Kau pasti ingat.
Ya, itu yang paling parah.
Malam itu, Ayah hilang kendali.
Ibu takut, makanya tak di sana.
Dia pun minta Otto untuk bicara dengan Ayah lagi.
Otto ke tepi jurang dengan Ayah.
Dia mau bilang Ibu akan pergi, membawa kita.
Tapi kemudian mereka berkelahi.
Dia melempar Ayah ke jurang.
Kau percaya pria ini?
Ya.
Selama ini Ibu membohongi kita soal kejadian malam itu.
Apa kau tahu soal ini?
Sudah kubilang, aku tak tahu.
Aku tahu ada orang di atas sana, tapi aku tak tahu soal ini.
Waktu itu aku masih kecil.
Sama sepertimu.
Aku cuma lakukan yang disuruh Ibu.
- Maafkan aku, Russell. - Tak apa-apa.
Ini mungkin tak akan lebam, tapi kau mengangkat sikumu. Itu bagus.
Maksudku bukan itu.
Maaf aku percaya ucapan Ibu soal malam itu, kejadian itu.
Maaf aku pernah…
mengira kau ada andil dalam kematian Ayah.
Dan maaf saat kau pergi, kukira kau menelantarkan kami.
Maafkan aku.
Permintaan maaf diterima.
Ibu tak punya pilihan.
Ya, 'kan?
Ayah hilang kendali.
Dia benar-benar jadi liar. Aku menyaksikan hal yang tak kau tahu.
Bukan berarti kita tutup mata.
- Maksudmu Ayah pantas dibunuh? - Apa urgensinya sekarang?
Apa tindakan itu benar? Tidak.
Itu menghancurkan kita semua?
Ibu melakukan yang seharusnya. Oke?
Benar, dan membiarkan kita membenahi semuanya.
Itu yang kau lupakan.
Aku bertahan, Russell, dan tiap kali kutanya tentang malam itu,
apa yang terjadi, Ibu langsung mengelak, seolah ingin menghapusnya.
Kau tahulah…
Ayah punya banyak masalah.
Banyak sekali.
Ya.
Tapi tak selalu seperti itu.
Benar.
Ada sesuatu di musim panas itu.
Ibu tak mau membahasnya.
Dia tak mau mengenangnya.
Tapi terjadi sesuatu.
Makanya aku pergi tanpa pamit.
Aku benci kebohongan. Aku muak…
dengan ketidakbenaran.
Begini…
Entahlah, bersembunyi di Wyoming
dan berkelahi di bar bukanlah jawabannya, 'kan?
Aku juga begitu di Jakarta.
Berakhir di kamar motel dengan kuku kaki dicat dan monyet di dadaku.
Aku serius, Russ.
Aku juga.
Aku juga kesulitan menghadapi ini.
Ini berat.
Kau tahu yang kulakukan?
Aku mengemasnya.
Lalu menyingkirkannya.
Setiap hari…
Setiap hari makin mudah.
Aku tak bisa.
Kemas, singkirkan. Aku tak bisa.
Aku bukan…
Aku bukan tipe seperti itu.
Aku mengerti.
Dengar, apa pun ini, aku…
aku mengakhiri ini.
Waktunya untuk bangkit.
Itu dia.
- Russell. - Ketemu.
Tiga minggu? Sungguh?
Tanpa kabar sama sekali?
- Ya, aku baik-baik saja. - Tapi aku tidak.
Aku khawatir sekali.
Dan kau suruh kakakku?
Sebelumnya berhasil.
Maaf, Reenie. Aku cuma perlu meluruskan berbagai hal.
Aku tak akan bertanya.
Aku baik-baik saja.
Kau siap kembali bekerja?
- Siap. - Aku sedang tak cari pekerjaan.
Terkadang pekerjaan yang menemukanmu.
Dan aku bisa ikut.
Tak ada kegiatan lain?
Saat ini, tidak. Aku sedang tak bekerja.
Kau berhenti dari pekerjaanmu?
Kami sepakat untuk mengakhiri kerja sama.
- Kau dipecat. - Ya, jadi aku punya banyak waktu luang.
Dan kita bisa menghabiskan waktu bersama.
Bagaimana menurutmu?
Bagus.
Baiklah, Reenie, silakan katakan.
- Kami menyimak. - Cal Rodgers, dia klienku.
Dia khawatir soal putrinya, Hailey, dan mantan istrinya.
Dia menduga mereka hilang.
Dia bersedia membayar berapa pun.
- Teruskan. - Cal sedang menjemput Hailey
untuk bergantian mengasuh petang ini, tapi rumah kosong.
Mungkin sengketa hak asuh.
Ya, tapi mungkin tidak.
Entahlah. Cal merasa hal buruk telah terjadi,
dan dia pikir itu mungkin ada kaitannya
dengan pacar mantan istrinya, orang keuangan.
Orang keuangan itu paling parah.
Sepertinya itu semua bohong
No comments yet. Be the first to leave one.