প্রথম 200টি লাইন।
- Paman, sekarang. - Diam dulu, tunggu.
Astaga, kamu ini...
Sudah kubilang tunggu.
Aroma karinya sedap.
Apa?
Sudah kubilang jangan begitu.
Myo Jin ke mana? Sudah waktunya makan.
Apa dia pergi memancing lagi dengan Meoljjeongi?
Meoljjeongi, Meoljjeongi, selalu saja Meoljjeongi.
Aku akan menjemput mereka. Siapkan satu sendok lagi.
Kamu tidak boleh begitu.
Kalau kamu memang sangat ingin mengurusnya,
kalian berdua makan saja di luar dan suruh anakku saja yang pulang.
- Jangan bawa orang menumpang. - Menumpang?
Kamu mau terus-terusan begitu?
Apa Meoljjeongi orang lain bagi kita?
Tentu saja dia orang lain.
Apa dia buta? Apa dia tidak punya tangan dan kaki?
Dia itu pengangguran dan tak bisa menghidupi dirinya.
Dia membawa pengaruh buruk untuk putri kita.
Apa kamu sudah lupa?
Saat kita baru pindah, siapa yang membela kita dari sinisnya warga?
Mulai dari cara menanam bibit sampai mengenalkan ke rekan bisnis.
Berkat siapa kita bisa menyambung hidup sekarang?
Apa kamu sudah sama sekali tidak ingat?
Aku akan pergi menjemputnya.
Saking berterima kasihnya, aku sampai mau menangis.
Paman jago sekali menangkap ikan.
Kenapa aku tidak bisa?
Sampai sekarang aku belum dapat satu ekor pun.
Kira-kira kenapa kamu tidak bisa menangkap ikan?
Kata Paman, aku selalu terburu-buru. Tidak menunggu dengan santai.
Benar.
Baiklah, kamu tahu masalahnya, tapi kenapa masih tak bisa?
Karena memancing itu sulit.
Aku bisa menangkap yang lainnya dengan baik.
Begitu?
Bagaimana kalau kita pergi menangkap yang lain selain ikan?
Kamu bilang bisa menangkap yang lain dengan baik, bukan?
Myo Jin.
Saat menangkap ikan maupun babi hutan,
caranya sama saja.
Apanya yang sama?
Berpikirlah seperti buruan yang ingin kamu tangkap.
Kira-kira kapan dia akan lapar.
Di mana kamu harus menunggu, dan umpan apa yang kamu gunakan.
Lalu setelah itu?
Kamu pasang perangkap dan menunggu.
Hanya umpannya yang berbeda, cara menangkapnya sama saja.
Terakhir,
kamu hanya perlu mengingat satu hal.
Jangan terburu-buru, pelan-pelan saja.
Benar sekali.
Myo Jin, Meoljjeong! Cepat kemari, waktunya makan!
Ibu memasak kari. Cepatlah kemari!
- Kari? - Kari?
Ayo!
"Perburuan."
Astaga, pagi-pagi sudah merecoki.
- Di mana Detektif Woo? - Katanya dia ada urusan lain.
Astaga, padahal dia sering sekali menelepon,
tapi saat begini dia tak muncul. Dia memang aneh.
Apa ada perkembangan?
Tim kami belum.
Aku sudah memeriksa kembali hasil autopsi Choi Hee Soo
dan ini jelas pembunuhan.
Pokoknya kita tunggu saja perkembangannya.
Sekalipun lokasi kejadiannya kebakaran
pasti ada saja satu petunjuk yang muncul.
Aku jadi penasaran orang seperti apa pelakunya.
Biasanya, kasus ini jarang terjadi kecuali pelakunya profesional.
Apa mungkin dilakukan oleh orang biasa?
Jika orangnya pintar dan teliti.
Entahlah.
Jika aku penasaran akan sesuatu, aku belajar dari media sosial.
Terkadang, cara itu malah lebih baik.
Katanya di lokasi kejadian ditemukan jejak kaki perempuan?
Jejak kaki perempuan?
Dari jejaknya, dia bertelanjang kaki.
Dari bentuk dan ukuran kakinya, sudah pasti itu jejak perempuan,
dan ada bercak darah. Apa kamu tahu?
Tidak.
Bagaimana bisa jejak kaki lama baru ditemukan sekarang?
Memang konyol. Pasti ada orang bodoh yang melewatkannya.
Baginilah akhirnya jika mereka bekerja dengan ceroboh.
Tak heran mereka disuruh menulis pernyataan dan diberi peringatan.
Apa mungkin bukti sejelas itu bisa terlewatkan?
Petugas penanggung jawab di sini bilang ada alasannya.
Kalau tidak salah Detektif Kang? Dia ke Forensik Nasional sendiri
dan menyerahkan bukti itu secara terpisah.
Kamu kenal Detektif Kang?
Tentu saja. Dia langsung ke sini? Sendirian?
Benar.
Dia bertanya pada petugas di sini apa dia kenal orang di polsek-nya.
Saat dijawab tidak, dia bilang, "Bagus," lalu memberikan bukti itu.
Pokoknya, mumpung kamu di sini, temui saja petugas itu.
Baik, terima kasih!
Baiklah.
Detektif Kang? Orang itu membuat gebrakan lagi.
Jadi, kamu juga sudah memastikannya, bukan?
Ya. Bagian itu sudah kuminta difaks. Silakan dicocokkan.
Baiklah. Kerja yang bagus!
Coba kulihat.
Tinggi badan 166,7cm dan 165cm.
Ukuran kaki 24cm.
Ukuran 24cm.
"Ukuran kaki 24cm."
Bagus!
Terima kasih, Detektif Kang.
Sulit kupercaya.
"Panggilan Myo Jin, 17."
"Panggilan Myo Jin, 17."
Jadi, insiden di vila itu pembunuhan yang disamarkan sebagai kebakaran.
Dilihat dari pola seperti area dan kedalaman lukanya,
kemungkinan besar ini pembunuhan karena dendam.
Sudah kubilang, Ham Myo Jin sudah kembali normal.
Tapi bukankah itu justru menyeramkan?
Melihat kondisinya sekarang,
ingatannya bisa kembali kapan saja.
"Myo Jin."
Myo Jin.
Kenapa kamu sulit sekali dihubungi?
Kamu di mana sekarang?
Ada yang ingin kusampaikan.
Begitu, ya.
Aku sebentar lagi sampai. Kita bicara di sana saja.
Kamu di rumah, 'kan?
Tidak.
Lalu kamu di mana?
Ini tempat yang kamu tahu juga.
Kamu masih tidak mengerti juga?
Kamu pikir aku akan meminta bantuan tanpa imbalan?
Untuk apa kamu datang lagi dan membuat keributan?
Dengarkan dulu penjelasanku sampai selesai.
Barulah kamu bisa marah atau mengusirku.
Sejujurnya, ini sebutannya saja permintaan.
Apa menurutmu aku melakukan ini untuk keuntunganku sendiri?
Lalu, apa kamu tidak apa-apa?
Melihat tingkah laku para bedebah itu?
Hidupmu sudah enak, apa kamu tidak punya urusan lain?
Aku tak tertarik dengan urusan orang lain.
Orang lain, ya?
Benar juga. Orang lain tetaplah orang lain.
Orang lain yang merusak hidup orang, lalu hidup enak dan tak mau tahu.
Sial.
Jujur saja, uang yang kamu terima waktu itu?
Bahkan masih kurang untuk membeli makanan anjing mereka.
Imbalan karena mendekam di penjara selama itu...
Apa-apaan ini? Sial. Aku kesal.
Tempat ini kubeli dari uang itu.
Bagiku, ini sudah seperti surga.
Kalau orang lain dengar, mereka akan mengiramu pertapa.
Berhenti bicara omong kosong dan katakan yang sebenarnya.
Sebenarnya kenapa
kamu begitu ingin menghancurkan anak itu?
Baiklah, bagus.
Kalau begitu, hari ini kita saling buka kartu.
Setelah ini tak boleh ada yang mengungkitnya.
Setuju?
Pertama, kita kuasai Ham Myo Jin, si wanita licik itu,
lalu peras si pencuri, Ryu Jun Ho.
Ryu Jun Ho itu...
Melihat dia merawat Ham Myo Jin yang sedang sakit kali ini,
dia benar-benar tergila-gila padanya.
Sudah kuduga.
Jadi akhirnya, rencanamu adalah memeras Grup Mono?
Benar sekali. Akhirnya kamu paham.
Hanya karena seorang wanita,
dia akan termakan oleh ancamanmu, begitu?
Calon pimpinan perusahaan raksasa bernilai ratusan miliar dolar?
Benar, 'kan? Ini yang kumaksud.
Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa.
Pimpinan Choi dan putrinya
tewas hangus terbakar dalam semalam.
Kenapa Ham Myo Jin dan Ryu Jun Ho selalu bersama?
Dengar.
Kamu masih belum sadar juga, bukan?
Insiden yang kamu tanggung sendiri waktu itu,
dan apa yang sebenarnya terjadi.
Apa maksudmu?
Itu bukan perbuatan Pimpinan Choi.
Itu semua perbuatan bocah-bocah itu.
Bocah-bocah?
- Aku akan jelaskan semuanya. - Tidak, tidak perlu.
Aku tahu apa yang kamu pikirkan dan yang akan kamu katakan.
Myo Jin, bisakah kita
melihat saja ke depan?
Kita saling mencintai.
Itu saja yang harus kita tahu.
Ya?
Kamu pernah bilang padaku, bukan?
Apa pun yang terjadi, kamu akan selalu berada di sisiku.
Jika hanya tinggal kita berdua...
Coba pikirkan lagi kenapa aku berkata seperti itu.
Alasannya akan berbeda dari yang kamu pikirkan.
Sampai kamu tidak akan sanggup menanggungnya.
Tidak.
Aku tahu.
Aku tahu apa yang kamu tunggu selama ini di sisiku.
"Mendekati tunangan Choi Hee Soo, Ryu Jun Ho."
No comments yet. Be the first to leave one.