The first 200 lines.
Kudengar kau sedang dekat dengan seseorang.
Apakah pria itu bernama Earth?
Mengapa kau melakukan ini, Manusia?
Aku juga menyukai apa yang kau suka.
Pagi.
PAGI.
Ongsa, apakah kau Earth?
SEBELUMNYA
Bagaimana perasaanku kepadamu, Ongsa?
Aku harus mengakui bahwa aku tak yakin.
Itu sebabnya, aku ingin mengenalmu lagi.
Hai. Aku Sun.
Aku Ongsa.
Senang bertemu denganmu, Sun.
Hai, Ongsa.
Hai, Sun.
Astaga! Thailand panas sekali!
Itu adalah fakta kehidupan.
Mau ke mana kau?
Ke perpustakaan.
Mau ke mana kau, Ongsa?
Aku mau pergi ke sana untuk membeli Kanom Krok.
Oke. Kalau begitu, sampai nanti.
Oke.
Kau lewat sana.
Aku akan lewat sini.
Oke, aku akan lewat sana.
- Dah. - Dah.
Apa itu tadi? Ada apa dengan keduanya?
Kita berdiri di sini bersama. Bagaimana aku tahu?
Sial. Mengapa hari ini panas sekali?
Seperti sedang mempersiapkanku untuk Neraka.
Sepertinya karena cuacanya terik, orang-orang menjadi gila.
Masa bodoh. Di sini panas.
Ayo pergi ke kelas agar dingin.
Ongsa? Bolehkah aku duduk bersamamu?
Tentu saja. Mengapa tidak?
Ada apa? Apakah kau tersipu?
Tidak.
Sungguh? Kalau begitu, mengapa kau takut melihatku?
Aku tak takut.
Jika tidak takut, lihatlah aku.
Mengapa kau tersenyum?
Karena kau lucu, Ongsa.
Jangan tersenyum. Kau membuat aku bingung.
Mengapa kau bingung?
Kau cukup lancar di pesan singkat, tapi sangat pemalu secara langsung.
Sejujurnya, ini cukup baru bagi kita.
Sun.
Ada apa?
Maaf, aku tak sekeren di daring.
Jangan seperti itu. Kau juga manis jika seperti ini.
Aku akan berusaha lebih santai seperti ini saat kita mengobrol.
Bolehkah aku pinjam ponselmu?
Bolehkah aku pinjam ponselmu?
Apa kode sandinya?
2-2-0-6.
Kita menggunakan kode sandi yang sama.
Sungguh?
Kebetulan sekali.
Sama sekali bukan suatu kebetulan.
Aku memakai tanggal lahirmu sebagai kode sandiku.
Sun, tunggu sebentar!
Ini
fotoku.
Apakah kau begitu menyukaiku?
Ya.
Tapi aku khawatir kau akan merasa tak nyaman.
Katakan saja jika kau merasa tak nyaman.
Tidak.
Bagaimana kalau kita melakukannya secara perlahan?
Aku…
Aku juga tak ingin kau merasa tak nyaman berada di dekatku.
Ini.
Apakah kau mau Kanam Krok?
Apakah itu Kanom Krok-Sun?
Charoen.
Charoen, kau iblis.
Cha-roen. Charoen!
Aku sedang berbicara denganmu, Charoen.
Mengapa kau diam saja? Charoen, Charoen, Charoen.
Charoen.
Ya, Ongsa?
Bisakah kita bertukar tempat duduk?
Mengapa?
Apakah feng shui-nya buruk di sana?
Bukan begitu.
Aku hanya ingin melihat dari sudut yang berbeda.
Aku juga mau melihat dari sudut yang berbeda.
Terima kasih.
Aku di sini. Sudut barumu.
Tak apa-apa?
Aku siap untuk mengalahkan iblis.
Apakah kau baru saja mengatakan bahwa aku adalah iblis?
- Ya. - Kalahkan aku jika kau bisa.
Apa kau sudah makan?
Anak-Anak.
Aku mendapat kabar terbaru untuk Hari Olahraga kita.
Kalian sudah menantikannya, bukan?
- Ya! - Benar.
Tahun ini, kelas kita akan berada di Tim…
Tim…
Tim…
Tim…
Tim…
Tim…
Biru.
Hore!
Tugas utama kita, membuat alat peraga dan mendekorasi bangku penonton.
- Ketua Kelas, tolong periksa. - Baik, Bu.
Adakah yang mau menjadi pemandu sorak atau komandan lapangan Tim Biru?
- Aku bersedia. - Aku juga.
Baiklah, Dear dan Vi, pergilah ke departemen rekreasi
dan tuliskan nama kalian.
Itu saja informasinya.
Terima kasih, Bu.
Hei.
Apakah kau tak ingin mengikuti audisi pemandu sorak?
Apa kau gila? Aku?
Mengapa tidak?
Aku tak bisa menari.
Dan aku tak punya nyali.
Aku juga tak cantik.
Aku hanya akan membantu semua pekerjaan payah itu.
Itu benar. Aku setuju.
Aku tak akan melakukan apa pun, selain melihat para pria keren.
Dasar jiwa yang kotor.
Yang kau pedulikan hanyalah pria.
Diam. Jangan sampai aku juga melihatmu sedang mengamati seseorang.
- Kau berdosa. - Apa yang ingin kau lakukan?
- Tidak, kau yang berdosa. - Bukan aku, tapi kau.
- Dasar tak tahu malu. - Apa? Jangan katakan itu.
Kau bermulut kotor. Itu adalah dosa.
Mengapa kau tersenyum?
Tersenyum? Tidak.
- Sungguh? - Tidak.
"Tidak"?
Berbohong adalah dosa.
Aku baru saja melihatmu tersenyum.
Tidak, aku tak tersenyum.
Terima kasih sudah mengantarku pulang.
Ongsa, maukah kau membantu?
Injak itu.
Satu, dua, tiga.
Kau belum mau pulang?
Belum.
Tapi ini sudah malam.
Aku tak ingin kau pulang malam-malam.
Itu tak aman dan tak nyaman untukmu.
Masa bodoh.
Aku akan mengantarmu pulang, apa pun yang terjadi.
Tapi…
Tidak ada "tapi".
Terutama jika sudah larut malam begini, aku harus mengantarmu pulang.
Lagi pula, rumahku ada di sana.
Tapi aku khawatir jika kau mengalami kecelakaan.
Kalau begitu,
bagaimana jika aku menginap saja?
Apa?
Bagaimana dengan pakaianmu?
Aku bisa mencucinya.
Lalu, sambil menunggu sampai kering?
Itu…
Aku bisa memakai pakaianmu.
Aku tersipu untuk bajuku.
Aku bercanda.
Aku juga tersipu.
Jadi,
bolehkah aku menginap di sini?
Luna, kau mau ke mana?
Bolehkah aku menginap beberapa hari di rumahmu?
Di rumahku?
Senior Manusia ini suka membuatku melakukan sesuatu sesuai keinginannya.
Aku membantu Aylin dan timnya untuk Hari Olahraga.
Aku ingin Aylin membantu teman-teman sekelasnya,
tapi aku tak memercayainya melakukan semua itu sendiri.
Jadi, aku di sini untuk berjaga-jaga.
Lalu, Dua Manusia…
Apakah kalian sekarang pacaran?
Hei! Tidak. Bukan seperti itu.
Ada pertemuan apa di depan rumahku ini?
Hei, Luna.
- Selamat malam, Paman dan Bibi. - Halo.
- Kami sedang membicarakan… - Hei!
Bukan apa-apa.
Luna ingin menginap
untuk memastikan Aylin ikut serta dalam persiapan Hari Olahraga.
Lihat, 'kan?
Aylin berpartisipasi dalam aktivitas manusia sekarang.
Apa? Apa katamu?
Ya. Kita harus merayakannya. Untuk Aylin.
Kalau begitu, Ibu akan memasak untuk kalian malam ini.
Aku akan membantu ibuku memasak.
Tunggu dulu.
Kemarilah.
Tidak secepat itu, Dik.
Aku mendengar sesuatu.
Apakah kalian berdua…
berpacaran?
Itu…
No comments yet. Be the first to leave one.